belajar dari sepak bola

Mengajar anak memang harus pake cara yang beda. Kita harus masuk ke dunia mereka, seperti yang saya alami saat mengajar bahasa inggris untuk kelas 4 sd. dari awal mereka memang sangat tertarik pada sepak bola sehingga saya memutuskan untuk membuat permainan dari sepak bola, namun ternyata anak-anak menolaknya dengan alasan tidak rame, kemudian salah satu anak (taqi)mengusulkan untuk diadakan adu tanding sepak bola dimana untuk tim yang kemasukan bola harus menyebutkan 5 kata sifat. saya sangat hargai usulan tersebut dan setiap anakpun menyetujuinya.
Lalu mulailah kami bermain bola setelah sebelumnya anak-anak terlebih dahulu mencari kata benda yang ada di lingkungan sekitar, saat permainan banyak sekali interaksi atau kejadian yang membuat saya kagum, ternyata anak-anak ini sangat berbeda jika saat di lapangan. mereka tanpa sadar membagi-bagi peran dalam kelompok dan setiap anggota kelompok menerima keputusan bersama, belum lagi sikap empati yang ditunjukan setiap anak bahkan terhadap lawan mainnya. misalnya andi dan irawan yang biasanya cuek terhadap temannya khususnya taqi, saat bermain sepak bola memberikan perhatian dengan menanyakan keadaan taqi ketika terjatuh dan menawarkan sandalnya saat sandal taqi putus.
Suatu hal yang jarang saya lihat di kelas.menjadi aneh ketika mereka di sekolah dituntut untuk berkompetisi menjadi yang terbaik untuk diri mereka sendiri daripada menjadikan kelompoknya ataupun lingkungannya menjadi lebih baik (memberikan kontribusi pada kelompok/lingkungan). permainan ini menyadarkan saya bahwa kerjasama dapat dibina tidak selalu harus melalui kompetisi, karena anak-anak ini memiliki potensi atau mekanisme sendiri untuk membangun kerjasama di antara mereka. celakanya sekolah membunuh potensi itu dengan model kompetisi, rangking,nem, apalagi ujian nasional. fahmi
Filed under: Pelajaran Penting | 5 Comments
Tags: bhs-inggris, fahmi, sepakbola







meuni galak euy, “sekolah membunuh potensi itu…”
Saya setuju dengan Kang Fahmi, dimana proses belajar harus dimulai dengan sesuatu yang disukai oleh anak-anak.
Yoi coy… Itulah yang luput dari sekolah formal. Mereka berpikir merekalh yang paling pintar, jadi siswa adalah obyek semata… Hidup Fahmi!
ya begitulah sekolah kita!!!
teu acan aya deui nu anyar yeuh?