samoja-head.png

Pada tahun 2003-2004, Yayasan Bandung Peduli bekerjasama dengan kalyANamandira terlibat dalam program World Food Programs (WFP) dan Solid Waste Management Project (SWMP) di Kelurahan Samoja Bandung. Program ini diantaranya pemenuhan kebutuhan gizi balita dan pengolahan sampah yang dihasilkan sehingga menjadi bermanfaat.

Pada tahun 2005, muncul ide dari salah satu masyarakat Samoja untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak disana. Atas inisiatif dari Yayasan kalyANamandira dan masyarakat Samoja, maka dibentuklah “Rumah Belajar Samoja”.

Seluruh pengajar di rumah belajar ini adalah sukarelawan. Sebagian besar adalah mahasiswa, dan sebagian lagi adalah ‘alumni’ siswa dampingan kalyANmandira, pada saat masih melakukan dampingan di beberapa sekolah menengah atas di Kota Bandung. Blog ini didedikasikan untuk merekam pengalaman dari lapangan, agar pengalaman ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

Selengkapnya mengenai program rumah belajar ini, silakan klik di sini. Selamat membaca!

____________________________________________________________________

This blog post is part of Zemanta’s “Blogging For a Cause” campaign to raise awareness and funds for worthy causes that bloggers care about. Blogging For A Cause | Zemanta Ltd.
Posted using ShareThis

fahmi

Mengajar anak memang harus pake cara yang beda. Kita harus masuk ke dunia mereka, seperti yang saya alami saat mengajar bahasa inggris untuk kelas 4 sd. dari awal mereka memang sangat tertarik pada sepak bola sehingga saya memutuskan untuk membuat  permainan dari sepak bola, namun ternyata anak-anak menolaknya dengan alasan tidak rame, kemudian salah satu anak (taqi)mengusulkan untuk diadakan adu tanding sepak bola dimana untuk tim yang kemasukan bola harus menyebutkan 5 kata sifat. saya sangat hargai usulan tersebut dan setiap anakpun menyetujuinya.

Lalu mulailah kami bermain bola setelah sebelumnya anak-anak terlebih dahulu mencari kata benda yang ada di lingkungan sekitar, saat permainan banyak sekali interaksi atau kejadian yang membuat saya kagum, ternyata anak-anak ini sangat berbeda jika saat di lapangan. mereka tanpa sadar membagi-bagi peran dalam kelompok dan setiap anggota kelompok menerima keputusan bersama, belum lagi sikap empati yang ditunjukan setiap anak bahkan terhadap lawan mainnya. misalnya andi dan irawan yang biasanya cuek terhadap temannya khususnya taqi, saat bermain sepak bola memberikan perhatian dengan menanyakan keadaan taqi ketika terjatuh dan menawarkan sandalnya saat sandal taqi putus.

Suatu hal yang jarang saya lihat di kelas.menjadi aneh ketika mereka di sekolah dituntut untuk berkompetisi menjadi yang terbaik untuk diri mereka sendiri daripada menjadikan kelompoknya ataupun lingkungannya menjadi lebih baik (memberikan kontribusi pada kelompok/lingkungan). permainan ini menyadarkan saya bahwa kerjasama dapat dibina tidak selalu harus melalui kompetisi, karena anak-anak ini memiliki potensi atau mekanisme sendiri untuk membangun kerjasama di antara mereka. celakanya sekolah membunuh potensi itu dengan model kompetisi, rangking,nem, apalagi ujian nasional. fahmi


ngabaksoAnak-anak di perkotaan memang dalam kondisi berbeda. Mereka banyak menerima terpaan informasi dari berbagai media. Mereka dikenalkan dengan banyak hal, termasuk di sekolah. Namun tidak banyak media mereka justru untuk mengenali diri dan lingkungannya. Tidak mengherankan jika mereka kemudian tidak menjadi kritis. Mereka tidak terbiasa untuk menganalisa masalah di lingkungannya. Mereka tidak terlatih kreatif untuk menyelesaikan masalah secara mandiri.

“Fungsi pendamping lebih sebagai fasilitator. Anak-anak sedapat mungkin mengambil peran besar dalam proses pembelajaran. Dengan menjadi subyek pembelajaran, mereka sebenarnya juga sedang belajar mengembangkan diri mereka sendiri” disampaikan Dan Satriana. Hal yang sama juga dirasakan oleh Fahmi dan Fifin yang secara intens mengamati perkembangan anak-anak. Ketika pertama kali ikut kegiatan ini, anak-anak tidak terlalu aktif. Mereka akan mengerut dahi dan takut jika disuruh menerangkan gagasannya. Tapi sekarang sudah berbeda. Anak-anak berani dan percaya diri untuk menyampaikan gagasannya. Berani berdebat. Bahkan juga mengkritik pendampingnya.

Relawan yang menjadi pendamping akhirnya menjadi pihak yang belajar pula. Mereka belajar untuk menerapkan pendidikan kritis, pembelajaran kontekstual, menyenangkan, dan menghargai nilai-nilai kehidupan bersama anak-anak. Semua adalah pembelajar.

Para pendamping kebanyakan mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung. Mereka direkrut dengan berbagai cara. Wawan, Juju, dan Oka misalnya sudah dua tahun ini ikut aktif tadinya diajak oleh teman yang telah bergabung sebelumnya. Sudah ada upaya untuk mengajak remaja di lingkungan untuk terlibat mengajar. Namun belum ada yang tertarik bertahan.

Pendamping bebas untuk menentukan bentuk keterlibatan sesuai dengan minat dan kesediaan. Ada yang terlibat langsung atau mendukung pengembangan media belajar. Untuk meningkatkan kapasitas mereka sebagai pendamping proses pembelajaran diberikan pelatihan dan diskusi-diskusi di sekretariat KalyANamandira.

Hal lain yang sedang dikembangkan saat ini adalah pelibatan orang tua siswa dan masyarakat dalam proses pembelajaran bersama. Sampai saat ini orang tua baru melakukan diskusi mengenai perkembangan anak masing-masing. Di masa mendatang orang tua dan masyarakat sekitar diharapkan memegang peran utama dalam mengelola kegiatan belajar ini. Cita-citanya: suatu saat nanti lingkungan pemukiman ini menjadi masyarakat pembelajar. Rumah dan lingkungan menjadi satu kesatuan yang saling mendukung memberikan pendidikan nilai-nilai kehidupan. Bahkan kesatuan ini akan melebar sampai keterlibatan masyarakat dalam sekolah formal.

Prinsip-prinsip dan langkah-langkah pembelajaran kritis dan kontekstual ini diharapkan akan memperkaya arus utama metode pembelajaran di Indonesia. Pengalaman-pengalaman berharga selama pengembangkan pembelajaran sedang didokumentasikan agar dapat menjadi media berbagi pengalaman bagi semua praktisi pendidikan, termasuk jalur pendidikan formal. (DANSAT)


baksoSayang ini tidak terjadi di sekolah. Sekolah hanya berperan menjadi pelaksana (baca: operator) dari sekian banyak target kurikulum. Sejak Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diberlakukan sampai Kurikulum 2004 belum nampak kesungguhan dalam menggali potensi lokal sebagai bahan pembelajaran. Padahal, seperti dilakukan di ruang serba guna ini, alat bantu pembelajaran sangatlah sederhana. Potongan koran, sedotan minuman bekas, denah desa, tukang bakso, anggota keluarga, teman-teman, semuanya dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Murah dan kontekstual.

Salah satu kelemahan mendasar yang sulit dikikis dari kegiatan pendidikan di sekolah adalah kesalahkaprahan tentang kecerdasan anak. Kecerdasan cenderung diukur hanya berdasarkan aspek akademik, yakni sejauh mana anak menguasai materi pelajaran. Padahal di luar aspek akademik masih ada banyak jenis kecerdasan lain yang perlu diperhitungkan, seperti estetika, sosial, dan spiritual.

Padahal dua tahun lalu KalyANamandira memulai rumah belajar ini dengan tujuan yang sungguh sederhana. Sekitar dua tahun lalu beberapa orang tua datang minta tolong agar KalyANamandira (KM) membuka les tambahan menjelang ujian nasional. Inilah alternatif terakhir setelah mereka tidak mampu membiayai anaknya ikut bimbingan belajar atau les tambahan di sekolahnya.

Jadilah ruangan serbaguna milik RW 09 berubah menjadi tempat belajar setiap akhir minggu. Lebih dari 50 anak-anak usia sekolah dasar dan menengah belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Para pendamping membimbing mereka menjawab dan memecahkan soal Matematika dan Bahasa Inggris di buku atau lembar kerja yang mereka pakai di sekolah masing-masing. Tidak ada niat lebih daripada membantu anak-anak ini melewati ujian nasional. Kadung sudah didengung-degungkan ujian nasional menjadi titik ”hidup atau mati” seorang siswa.

Namun bagi pendamping KalyANamandira sendiri ini menjadi refleksi penting. Proses pembelajaran bersama komunitas memberikan prespektif pendidikan yang berbeda. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya ketika mengembangkan kegiatan di sekolah formal bersama siswa.

Salah satu yang bergulir menjadi pembicaraan adalah begitu jauhnya jarak antara pendidikan dengan keseharian anak-anak. Terutama pemukimankumuh kota. Pendidikan sekolah yang diberikan, dan dengan setia kita ikuti, tidak memberikan bekal bagi anak-anak untuk mengkaji apalagi menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Masalah yang dihadapi keluarganya. Masalah yang dihadapi lingkungannya.

Sekarang anak-anak yang aktif hanya sekitar 15 orang saja. Biasanya jumlah ini bertambah jika ada acara nonton film atau jalan-jalan. Setiap hari Sabtu dan Minggu mereka belajar Bahasa Inggris dan matematika.

”Tantangannya adalah menjaga agar proses belajar berlangsung menyenangkan. Anak-anak tentunya merasa jenuh dan terganggu konsentrasinya” Kata Fahmi. Kadang-kadang pendamping juga kesulitan mengembangkan ide proses belajar menyenangkan. Buku-buku referensi metode dan teknik belajar dari berbagai lembaga menjadi acuan penyusun alur pembelajar. Terlebih lagi, diakui pendamping adalah relawan dari berbagai kalangan belum ahli menyusun kurikulum sendiri. ”Memodifikasi proses pembelajaran dari referensi atau lembaga lain adalah caranya. Baru itu yang dapat kami lakukan” tambah Fahmi yang mengembangkan alur pembelajaran bahasa Inggris.

Bagaimana dengan anak-anaknya? Ketika ditanya, mereka menyampaikan, bahwa belajar di sini lebih bebas. ”Di sini belajarnya lebih bebas. Kita bisa belajar sambil main-main atau ngegosip” kata Yuli (15 tahun). Mereka juga bisa protes kepada para pendamping. Itu semua tidak dapat dilakukan di sekolah.”Di sekolah malas untuk bertanya. Di sini mah kalo ghak ngerti bisa bebas tanya dan mencari sendiri”. Meski kadang-kadang capek juga. Kalo nanya, bukan langsung dijawab. Kita disuruh nyari sendiri dulu jawabanya” tambah Elan (16 tahun). (DANSAT)


ngabaso-dijero”Untuk apa ini. Tanya-tanya modal dagang segala” kata tukang bakso yang kaget dan bingung didatangi kelompok anak-anak dengan kertas dan alat tulis. Berebutan anak-anak menyampaikan, bahwa ini adalah tugas Matematika. Terjadilah tanya jawab di pinggir jalan itu. Diselingi dengan ngobrol lain-lain. Juga kadang berhenti karena tukang bakso harus melayani pembeli yang datang.

Sebenarnya ini bukan wawancara sesungguhnya. Kadang-kadang malah tukang bakso itu yang bertanya. Anak-anak juga sering mengoreksi jawaban dari tukang bakso. Mereka seperti berbagi cerita. ”Kenapa si Mas tidak belanja di pasar Kosambi saja yang lebih murah dan dekat?”sanggah Restu (15 tahun) ketika tukang bakso menyebutkan pasar yang letaknya jauh dari tempat tinggal penjual bakso.

Memang mereka sedang belajar Matematika di rumah belajar Samoja yang dikelola KalyANamandira. Pada awal pembelajaran sore itu belum kelihatan perbedaan cara belajar di tempat ini dengan sekolah.Pendamping pertama-tama menyampaikan tujuan dan proses pembelajaran Matematika sore ini. Anak-anak kemudian dibagi dalam kelompok kecil sekitar 3-4 orang. Mereka diminta untuk mempelajari kertas kerja yang diberikan pendamping. “Mereka akan belajar matematika mengenai harga jual dan harga beli” Kata Fifin, pendamping pelajaran Matematika ini. ”Sebelumnya mereka sudah melakukan simulasi menghitung harga jual dan beli dengan menggunakan potongan iklan-iklan di koran”. Tapi mereka tidak hanya belajar di ruangan. Pendamping lebih jauh meminta mereka mewawancarai pedagang makanan keliling di sekitar pemukiman mereka.

Setelah pulang wawancara, mereka kembali lagi ke ruang serba guna RW dan menyalin hasil perhitungan mereka di kertas plano. Mereka membandingkan selisih harga beli dan harga jual untuk memperoleh angka keuntungan tukang bakso dalam satu hari. Satu persatu mempresentasikan hasil hitungan kelompoknya. Bukan presentasi yang rapih. Riuh rendah dibarengi canda dan komentar anak-anak.

Pendamping meminta kelompok berdiskusi untuk mencari cara untuk meningkatkan keuntungan tukang bakso. Macam-macam solusi yang ditawarkan anak-anak. Mulai dari membeli ke pasar yang lebih murah, memperpanjang waktu berjualan, meningkatkan kebersihan, promosi, sampai memperbanyak berdoa dan shalat. Semua dibahas sehingga muncul gagasan yang cukup realistis diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini belum berakhir. Pendamping minta agar anak-anak membandingkan keuntungan tersebut dengan perkiraan pengeluaran sehari-hari. Mulai dari uang kontrak rumah dan makan setiap bulannya. Keuntungan dalam sehari yang tadinya kelihatan besar, ternyata tidak banyak dan bahkan kurang untuk menghidupi kehidupan sehari-hari. Bahkan sangat tidak mencukupi untuk membiayai sekolah, jika tukang bakso punya anak setingkat SMP seperti mereka.

”Inilah intinya. Bukan pemahaman hitungan matematika saja. Materi dan logika Matematika digunakan untuk merefleksikan kehidupan sehari-hari mereka” Kata Dan Satriana, ketua Badan Pengurus KalyANamandira. ”Kami percaya bahwa penyerapan materi pelajaran lebih mudah jika didekatkan dengan hal-hal yang mereka kenali akrab. Sebaliknya, kami juga percaya pendidikan seharusnya memberi kontribusi untuk memperkaya cara pandang dan aspek kecerdasan peserta belajar dalam menghadapi hidup sehari-hari”lanjutnya.

Begitulah hampir seluruh proses pembelajaran dirancang untuk sebanyak mungkin menjadi media refleksi mereka terhadap kehidupan sehari-hari dan tentu saja diri mereka sendiri. Demikian juga dengan pelajaran bahasa Inggris yang didampingi oleh Fahmi, seorang mahasiswa sebuah institut koperasi di Jatinangor. Memperkaya kosa kata dan tata bahasa dilakukan dengan diskusi mengenai keluarga, teman-teman, maupun tetangga mereka sendiri. Anak-anak misalnya diminta bercerita mengenai keluarga dan teman-temannya. Mereka kemudian mencatat dan mencari sendiri padanan kata-kata kunci yang dipakai dalam kamus bahasa Inggris. Lagi-lagi, bahasa Inggris dapat digunakan untuk merefleksikan pandangan anak-anak mengenai orang-orang di sekitarnya. (DANSAT)


Matematika penuh dengan abstraksi. Angka dan rumus matematikan bagi sebagian anak-anak adalah abstrak. Misalnya saja ketika mereka harus membayangkan (baca: menghafal) rumus luas dan keliling bujur sangkar, segitiga, ataupun lingkaran.

Salah satu jembatan untuk memahami itu adalah mendekatkan rumusan abstraksi kedalam hal yang konkrit. Ke dalam dunia yang mereka kenal dengan baik.

Ini hanya satu contoh saja: Pendamping dengan peserta kelas 3 SD di Samoja mendiskusikan luas dan keliling lingkaran, segitiga, dan bujur sangkar dengan menggunakan potongan kertas panjang dan tangan sebagai pengukurnya. Dengan alat ukur itu mereka mencari benda-benda sekitar yang berbentuk lingkaran, segitiga, dan bujur sangkar. Tidak hanya lampu mobil tetangga yang mereka ukur, mereka mencari dan menjadikan tempat sampah, kaki meja, pagar, bahkan tempat benang layangan sebagai percobaan dan penerapan rumus mereka.

Matematika menjadi permainan menyenangkan. Mereka ternyata mempu memahami rumus tersebut dengan cepat. Belum lagi dihitung “bonus” berubahnya cara pandang anak-anak terhadap benda-benda di sekitar kehidupannya. Semua berasal dari penerapan belajar dari konkrit menuju abstrak, dari yang mereka kenal menuju yang baru..! (DANSAT)




Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.