Belajar dari Tukang Bakso (Bag.-3)

26Des08

ngabaksoAnak-anak di perkotaan memang dalam kondisi berbeda. Mereka banyak menerima terpaan informasi dari berbagai media. Mereka dikenalkan dengan banyak hal, termasuk di sekolah. Namun tidak banyak media mereka justru untuk mengenali diri dan lingkungannya. Tidak mengherankan jika mereka kemudian tidak menjadi kritis. Mereka tidak terbiasa untuk menganalisa masalah di lingkungannya. Mereka tidak terlatih kreatif untuk menyelesaikan masalah secara mandiri.

“Fungsi pendamping lebih sebagai fasilitator. Anak-anak sedapat mungkin mengambil peran besar dalam proses pembelajaran. Dengan menjadi subyek pembelajaran, mereka sebenarnya juga sedang belajar mengembangkan diri mereka sendiri” disampaikan Dan Satriana. Hal yang sama juga dirasakan oleh Fahmi dan Fifin yang secara intens mengamati perkembangan anak-anak. Ketika pertama kali ikut kegiatan ini, anak-anak tidak terlalu aktif. Mereka akan mengerut dahi dan takut jika disuruh menerangkan gagasannya. Tapi sekarang sudah berbeda. Anak-anak berani dan percaya diri untuk menyampaikan gagasannya. Berani berdebat. Bahkan juga mengkritik pendampingnya.

Relawan yang menjadi pendamping akhirnya menjadi pihak yang belajar pula. Mereka belajar untuk menerapkan pendidikan kritis, pembelajaran kontekstual, menyenangkan, dan menghargai nilai-nilai kehidupan bersama anak-anak. Semua adalah pembelajar.

Para pendamping kebanyakan mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung. Mereka direkrut dengan berbagai cara. Wawan, Juju, dan Oka misalnya sudah dua tahun ini ikut aktif tadinya diajak oleh teman yang telah bergabung sebelumnya. Sudah ada upaya untuk mengajak remaja di lingkungan untuk terlibat mengajar. Namun belum ada yang tertarik bertahan.

Pendamping bebas untuk menentukan bentuk keterlibatan sesuai dengan minat dan kesediaan. Ada yang terlibat langsung atau mendukung pengembangan media belajar. Untuk meningkatkan kapasitas mereka sebagai pendamping proses pembelajaran diberikan pelatihan dan diskusi-diskusi di sekretariat KalyANamandira.

Hal lain yang sedang dikembangkan saat ini adalah pelibatan orang tua siswa dan masyarakat dalam proses pembelajaran bersama. Sampai saat ini orang tua baru melakukan diskusi mengenai perkembangan anak masing-masing. Di masa mendatang orang tua dan masyarakat sekitar diharapkan memegang peran utama dalam mengelola kegiatan belajar ini. Cita-citanya: suatu saat nanti lingkungan pemukiman ini menjadi masyarakat pembelajar. Rumah dan lingkungan menjadi satu kesatuan yang saling mendukung memberikan pendidikan nilai-nilai kehidupan. Bahkan kesatuan ini akan melebar sampai keterlibatan masyarakat dalam sekolah formal.

Prinsip-prinsip dan langkah-langkah pembelajaran kritis dan kontekstual ini diharapkan akan memperkaya arus utama metode pembelajaran di Indonesia. Pengalaman-pengalaman berharga selama pengembangkan pembelajaran sedang didokumentasikan agar dapat menjadi media berbagi pengalaman bagi semua praktisi pendidikan, termasuk jalur pendidikan formal. (DANSAT)

Iklan


No Responses Yet to “Belajar dari Tukang Bakso (Bag.-3)”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: